Hubungan Matematika Diskrit dan Informatika

February 11, 2016 in Uncategorized

       Matematika dikenal sebagai ilmu dasar dari beberapa ilmu, misalnya ilmu fisika, kimia, Informatika, dll. Pada bidang ilmu Informatika, selain ilmu komputer, ilmu lain yang mendasarinya yaitu ilmu matematika. Wajar saja apabila mahasiswa teknik informatika juga belajar ilmu matematika. Pembelajaran matematika akan melatih kemampuan berpikir kritis, logis, analitis dan sistematis.

       Matematika diskrit merupakan ilmu paling dasar di dalam pendidikan informatika atau ilmu computer. Pada dasarnya informatika adalah kumpulan disiplin ilmu dan teknik yang mengolah dan memanipulasi objek diskrit. Matematika diskrit merupakan landasan matematis untuk kuliah-kuliah lain di informatika.karena kebanyakan mata kuliah sering mengacu pada konsep-konsep di dalam matematika diskrit. Di dalam kuliah matematika diskrit, materi matematika yang diberiakn adalah matematika yang khas informatika, contohnya dalam pembuatan sebuah password, dengan ilmu matematika diskrit kita bisa mengetahui jumlah peluang yang bisa menjadi sebuah password. Contoh lainya yaitu dalam pembuatan software, seorang programmer harus memiliki perhitungan yang tepat dan juga memiliki kemaampuan logika yang baik dan benar. Oleh karena itu, matematika sangat penting dalam rangka sebagai dasar dan pengembangan dalam majunya teknik informatika khususnya pembuatan software. Dalam pembuatan software tersebut menggunakan sistem bilangan biner dan kode bilangan. Semua disusun dengan urutan tertentu sehingga menghasilkan suatu software yang dapat diguanakan untuk mempermudah aktivitas kita. Disamping itu, untuk membuat suatu pemrograman di komputer, kita harus menggunakan algoritma. Algoritma itu sendiri merupakan langkah sistematis untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara logis.

Diskrit.

Kompresi Audio

May 17, 2015 in Uncategorized

Kompresi audio merupakan salah satu solusi yang cukup populer untuk digunakan terkait dengan masalah storage dan akses real time. Teknik kompresi digunakan se-optimal mungkin dengan memperhatikan beberapa aspek sehingga menghasilkan teknik kompresi yang lossless dan lossy. Untuk kebutuhan sehari – hari teknik lossy banyak digunakan, mengingat rasio kompresi yang besar sehingga sangat berpengaruh pada aspek storage dan keterbatasan kemampuan telinga manusia.

Pada teknik kompresi lossless terdapat teknik Free Lossless Audio Codec (FLAC) yang memanfaatkan tingginya korelasi antara sampel pada audio. Sedangkan pada teknik kompresi lossy terdapat LPC, CELP, MPEG. merupakan teknologi kuno yang digunakan untuk suara manusia. Pada makalah ini akan membahas prinsip-prinsip dasar dalam kompresi audio khususnya pada teknik FLAC dan LPC yang secara garis besar mewakili teknik kompresi lossless dan lossy.

Tujuan dari kompresi data adalah mengecilkan ukuran file audio tanpa merubah informasi dari data tersebut. Walaupun kenyataannya pada teknik kompresi lossy ada berberapa data yang tidak dapat dikembalikan ke semula. Seperti pada teknik kompresi pada umumnya, kompresi audio baik lossy maupun lossless, memanfaatkan adanya redudansi informasi dengan dengan pengkodea, pengenalan pola maupun prediksi linear seperti pada kompresi audio [1}. Kompresi dilakukan pada saat pembuatan file audio dan pada saat distribusi audio tersebut.

Kompresi Lossless

Pada kompresi lossless, hasil kompresi dapat dikembalikan ke data semula oleh itu rasio kompresi pada teknik kompresi lossless tidak terlalu besar atau cenderung kecil. Sedangkan pada teknik kompresi lossy memanfaat kan keterbatasan manusia misalnya pada pendengaran, maka dari itu ratio kompresi cukup besar.

Prinsip dasar kompresi lossy pada data audio memanfaatkan teori psikoakustik, yaitu keterbatasan pendengaran manusia. Telinga manusia hanya dapat menangkap suara dalam rentang 20Hz hingga 20000Hz, maka dalam kompresi lossy, data suara di luar rentang tersebut tidak disimpan. Lebih dalam lagi, suara dengan frekuensi tinggi hanya dapat didengar oleh telinga manusia jika memiliki amplitudo yang tinggi juga. Oleh karena itu, noise pada data audio (yang biasanya memiliki amplitude rendah) dapat ‘disembunyikan’ dengan cara disimpan pada rentang frekuensi tinggi. metode untuk mengkompresi data dan men-dekompresinya, dimana data yang diperoleh mungkin berbeda dari yang aslinya tetapi cukup dekat perbedaanya, penurunan (perbedaan) kualitas data disebut compression artefacts.

Untuk data audio secara umum, format yang sangat populer adalah MP3 yang merupakan bagian dari MPEG yang menangani layer audio (MPEG layer III), AAC yang merupakan pengembangan lebih lanjut, serta OGG. Untuk data speech, terdapat beberapa format seperti A-law/µ-law yang digunakan pada telepon, AMR pada GSM, AMR-WB untuk CDMA, dan sebagainya.

Kompresi Lossy

Kompresi lossless merupakan metoda kompresi data yang memungkinkan data asli dapat disusun kembali dari data hasil kompresi maka rasio kompresi pun tidak dapat terlalu besar untuk memastikan semua data dapat dikembalikan ke bentuk semula. Kompresi lossless untuk data audio mirip dengan algoritma kompresi lossless generik, dengan rasio kompresi 50 % sampai 60 %, meskipun dapat mencapai 35 % pada data musik orchestra atau paduan suara yang tidak terlalu banyak noise [1].

Kompresi  lossless  utamanya   digunakan   untuk  pengarsipan,   dan   penyuntingan.   Untuk   keperluan pengarsipan. Maka   kompresi  lossless  selalu digunakan   dalam  sound   engineering.   Selain   kedua kegunaan itu, kompresi  lossless juga biasa digunakan oleh   para  audiophile,   yaitu   penggemar  musik   yang senang mendengarkan musik dengan kualitas   tinggi dengan perangkat  keras yang berkualitas  tinggi  pula. Data   audio   yang   terkompresi   secara  lossless  juga  digunakan untuk menghasilkan data audio versi  lossyuntuk didistribusikan.

Klasifikasi Teknik Kompresi

  •   Entropy Encoding
Bersifat loseless
Tekniknya tidak berdasarkan media dengan spesifikasi dan karakteristik tertentu namun berdasarkan urutan data.
Statistical encoding, tidak memperhatikan semantik data.
Mis: Run-length coding, Huffman coding, Arithmetic coding
  •   Source Coding
Bersifat lossy
Berkaitan dengan data semantik (arti data) dan media.
Mis: Prediction (DPCM, DM), Transformation (FFT, DCT), Layered Coding (Bit position, subsampling, sub-band coding), Vector quantization
  • Hybrid Coding
Gabungan antara lossy + loseless
mis: JPEG, MPEG, H.261, DVI
Secara umum kompresi data terdiri dari dua kegiatan besar, yaitu Modeling dan Coding. Proses dasar dari kompresi data adalah menentukan serangkaian bagian dari data (stream of symbols) mengubahnya menjadi kode (stream of codes). Jika proses kompresi efektif maka hasil dari stream of codes akan lebih kecil dari segi ukuran daripada stream of symbols. Keputusan untuk mengindentikan symbols tertentu dengan codes tertentu adalah inti dari proses modeling. Secara umum dapat diartikan bahwa sebuah model adalah kumpulan data dan aturan yang menentukan pasangan antara symbol sebagai input dan code sebagai output dari proses kompresi. Sedangkan coding adalah proses untuk menerapkan modeling tersebut menjadi sebuah proses kompresi data.
ALGORITMA KOMPRESI DATA

Algoritma Shannon-Fano dan Algortima Huffman. Walaupun saat ini sudah bukan lagi proses coding yang menghasilkan kompresi paling optimal namun algoritma Shannon-Fano dan Algoritma Huffman adalah dua algoritma dasar yang sebaiknya dipahami oleh mereka yang mempelajari tentang kompresi data.
1. Algoritma Shannon-Fano
Teknik coding ini dikembangkan oleh dua orang dalam dua buah proses yang berbeda, yaitu Claude Shannon di Bell Laboratory dan R.M. Fano di MIT, namun karena memiliki kemiripan maka akhirnya teknik ini dinamai dengan mengggabungkan nama keduanya. Pada dasarnya proses coding dengan algoritma ini membutuhkan data akan frekuensi jumlah kemunculan suatu karakter pada sebuah pesan. Tiga prinsip utama yang mendasari algoritma ini adalah:
a.  Simbol yang berbeda memiliki kode yang berbeda
b. Kode untuk symbol yang sering muncul memiliki jumlah bit yang lebih sedikit dan  sebaliknya symbol yang jarang muncul memiliki kode dengan jumlah bit lebih besar.
c. Walaupun berbeda jumlah bit-nya tetapi kode harus tetap dikodekan secara pasti (tidak     ambigu).
Berikut adalah langka-langkah Algoritma Shannon-Fano :
1. Buatlah tabel yang memuat frekuensi kemunculan dari tiap karakter.
2. Urutkan berdasar frekuensi tersebut dengan karakter yang frekuensinya paling sering muncul berada di atas dari daftar (descending).
3. Bagilah 2 tabel tersebut dengan jumlah total frekuensi pada bagian atas mendekati jumlah total frekuensi pada bagian bawah (lihat tabel 3).
4. Untuk bagian paro atas berikan kode 0 dan pada paro bawah berikan kode
5. Ulangi langkah 3 dan 4 pada masing-masing paro tadi hingga seluruh symbol selesai dikodekan.
2. Algoritma Huffman
Algoritma Huffman memiliki kemiripan karakteristik dengan Algoritma Shannon-Fano. Masing-masing simbol dikodekan dengan deretan bit secara unik dan simbol yang paling sering muncul mendapatkan jumlah bit yang paling pendek. Perbedaan dengan Shannon-Fano adalah pada proses pengkodean. Jika algoritma Shannon-Fano membangun tree dengan pendekatan top-down, yaitu dengan memberikan bit pada tiap-tiap simbol dan melakukannya secara berurutan hingga seluruh leaf mendapatkan kode bit masing-masing. Sedangkan algoritma Huffman sebaliknyamemberikan kode mulai dari leaf secara berurutan hingga mencapai root.
Prosedur untuk membangun tree ini sederhana dan mudah dipahami. Masing-masing simbol diurutkan sesuai frekuensinya, frekuensi ini dianggap sebagai bobot dari tiap simbol, dan kemudian diikuti dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Dua node bebas dengan bobot terendah dipasangkan.
2. Parent node untuk kedua node pada langkah sebelumnya dibuat. Jumlahkan frekuensi keduanya dan gunakan sebagai bobot.
3. Sekarang parent node berperan sebagai node bebas.
4. Berikan kode 0 untuk node kiri dan 1 untuk node kanan.
5. Ulangi langkah di atas sampai hanya tersisa satu node. Sisa satu node inilah yang disebut sebagai root.
II. Modeling
Jika coding adalah roda dari sebuah mobil maka modeling adalah mesinnya. Sebaik apapun algoritma untuk melakukan coding tanpa model yang baik kompresi data tidak akan pernah terwujud. Kompresi Data Lossless pada umumnya diimplementasikan menggunakan salah satu dari dua tipe modeling, yaitu statistical atau dictionary-based. Statistical-modeling melakukan prosesnya menggunakan probabilitas kemunculan dari sebuah symbol sedangkan dictionary-based menggunakan kode-kode untuk menggantikan sekumpulan symbol.
1. Statistical Modeling
Pada bentuk paling sederhananya, statistical-modeling menggunakan tabel statis yang berisi probabilitas kemunculan suatu karakter atau symbol. Tabel ini pada awalnya bersifat universal, sebagai contoh pada bahasa Inggris karakter yang paling sering muncul adalah huruf “e” maka karakter ini memiliki 9 probabilitas tertinggi pada file teks yang berbahasa Inggris.
Menggunakan tabel universal pada akhirnya tidak memuaskan para ahli kopresi data karena apabila terjadi perubahan pada subyek yang dikompresi dan tidak sesuai dengan tabel universal maka akan terjadi penurunan rasio kompresi secara signifikan. Akhirnya muncul modeling dengan menggunakan tabel yang adaptif, di mana tabel tidak lagi bersifat statis tetapi bisa berubah sesuai dengan kode. Pada prinsipnya dengan model ini, sistem melakukan penghitungan atau scan pada keseluruhan data setelah itu barulah membangun tabel probabilitas kemunculan dari tiap karakter atau symbol.
Model ini kemudian dikembangkan lagi menjadi adaptive statistical modeling di mana sistem tidak perlu melakukan scan ke seluruh symbol untuk membangun tabel statistik, tetapi secara adaptif melakukan perubahan tabel pada proses scan karakter per karakter.
2. Dictionary Based Modeling
Jika statistical model pada umumnya melakukan proses encode simbol satu per satu mengikuti siklus: baca karakter  hitung probabilitas  buat kodenya maka dictionary-based modeling menggunakan mekanisme yang berbeda. Dictionary-based modeling membaca input data dan membandingkannya dengan isi dictionary. Jika sekumpulan string sesuai dengan isi dictionary maka indeks dari dictionary entry lah yang dikeluarkan sebagai output dan bukan kodenya. Sebagai perumpamaan dari dictionary-based dapat digunakan makalah ilmiah sebagai contoh. Saat kita membaca makalah ilmiah kita sering membaca nomor-nomor referensi yang bisa kita cocokkan dengan daftar pustaka di belakang. Hal ini mirip dengan proses pada dictionary-based modeling.

 

Kesimpulan

Kompresi Data dapat mempermudahkan dalam hal penyimpanan file yang begitu besar. Dan media penyimpanan kita bisa menampung data sebanyak- banyaknya.

Teknik kompresi audio lossless dan lossly memiliki perbedaan pada rasio kompresinya, hal ini terjadi karena pada teknik lossless data yang dikompresi dapat dikembalikan secara utuh ke data yg semula, sedangkan pada teknik lossly hanya sebagian data saja yang dikembalukan ke data semual. Untuk penggunaan sehari-hari teknik lossly sering digunakan karena aspek storage dan keterbatasan pendengaran manusia.

 

 

Teknologi TV Digital

March 10, 2015 in Uncategorized

Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε, “jauh”) dari bahasa Yunani dan visio (“penglihatan”) dari bahasa Latin sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”

Penggunaan kata “Televisi” sendiri juga dapat merujuk kepada “kotak televisi”, “acara televisi”, ataupun “transmisi televisi”. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal sering disebut dengan TV (dibaca: tiviteve ataupun tipi.)

Sejarah awal 

Awal dari televisi tidak bisa dipisahkan dengan hukum Gelombang Elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

1876 – George Carey menciptakan Selenium Camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik.

1884 – Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut Teleskop Elektrik dengan resolusi 18 garis.

1888 – Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. tapi ini belum diterapkan pada saat itu.

1897 – Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan oleh ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Cikal bakal televisi layar tabung.

1900 – Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris.

1907 – Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.

1927 – Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun.

1923 – Vladimir Kozma Zworykin, mendaftarkan paten atas namanya untuk penemuannya, kinescope, televisi tabung pertama di dunia. Dia juga menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT. Sebuah kamera tabung melengkapi teknologi televisi tabung penemuannya. Penemuan itu dinamakannya iconoscope, berasal dari bahasa Yunani, icon yang berarti citra dan scope yang berarti mengamati. Ia meninggal karena usia tua pada 29 Juli 1982. Dialah yang kemudian sebagai Sang Penemu Televisi. (1889-1982).

1939 – tepatnya tanggal 11 Mei, untuk pertama kalinya, sebuah pemancar televisi dioperasikan di kota Berlin, Jerman.

1940 – Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.

1956 – Robert Adler kelahiran Amerika Serikat bersama rekannya Eugene Polley, menemukan remote control televisi.

1958 – Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan layar televisi dikemukakan oleh Dr. Glenn Brown.

1964 – Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow.

1967 – James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.

1968 – Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.

1975 – Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.

1979 – Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED).

1981 – Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.

1987 – Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.

1995 – Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang.

2000-an, masing-masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.

2008 dan seterusnya, menyusul perkembangan televisi digital di negara-negara Amerika dan Eropa, Indonesia juga akan menerapkan sistem penyiaran Televisi digital (Digital Television/DTV) adalah jenis TV yang menggunakan Modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi.

Era TV Digital

Apa itu TV digital??
Televisi digital atau DTV adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi. Televisi digital merupakan alat yang digunakan untuk menangkap siaran TV digital, perkembangan dari sistem siaran analog ke digital yang mengubah informasi menjadi sinyal digital berbentuk bit data seperti komputer.

 

Perbedaan TV analog dengan TV digital.

1. Kualitas gambar dan suara

Siaran televisi digital terestrial menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang mampu mengatasi efek lintas jamak (multipath). Pada sistem analog, efek lintasan jamak menimbulkan echo atau gaung yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan).

Penyiaran televisi digital menawarkan kualitas gambar yang sama dengan kualitas DVD, bahkan stasiun-stasiun televisi dapat memancarkan programnya dalam format 16:9 (layar lebar) dengan standar Standard Definition (SD) maupun High Definition (HD). Kualitas suara pun mampu mencapai kualitas CD Stereo, bahkan stasiun televisi dapat memancarkan suara dengan Surround Sound (Dolby DigitalTM).

2. Tahan perubahan lingkungan

Siaran televisi digital terestrial memiliki ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile TV), misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.

3. Tahan terhadap efek interferensi

Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman atau transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu.

4. Efisiensi spektrum/kanal

Teknologi siaran televisi digital lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum dibanding siaran televisi analog. Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk siaran televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6, artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital untuk lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya.

Dalam bahasa yang sederhana, ini berarti dalam satu frekuensi dapat digunakan untuk enam siaran yang berbeda. Ini jauh lebih efisien dibanding dengan siaran analog dimana satu frekuensi hanya untuk satu siaran saja. Dengan keunggulan ini, keterbatasan jumlah kanal dalam spektrum frekuensi siaran yang menjadi penghambat perkembangan industri pertelevisian di era analog dapat diatasi dan memungkinkan munculnya stasiun-stasiun televisi baru yang lebih banyak dengan program yang lebih bervariasi.

 

Manfaat penyiaran TV Digital

  • TV Digital digunakan untuk siaran interaktif. Masyarakat dapat membandingkan keunggulan kualitas siaran digital dengan siaran analog serta dapat berinteraksi dengan TV Digital.
  • Teknologi siaran digital menawarkan integrasi dengan layanan interaktif dimana TV Digital memiliki layanan komunikasi dua arah layaknya internet.
  • Siaran televisi digital terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi tidak bergerak maupun sistem penerimaan televisi bergerak. Kebutuhan daya pancar televisi digital yang lebih kecil menyebabkan siaran dapat diterima dengan baik meski alat penerima siaran bergerak dalam kecepatan tinggi seperti di dalam mobil dan kereta.
  • TV Digital memungkinkan penyiaran saluran dan layanan yang lebih banyak daripada televisi analog. Penyelenggara siaran dapat menyiarkan program mereka secara digital dan memberi kesempatan terhadap peluang bisnis pertelevisian dengan konten yang lebih kreatif, menarik, dan bervariasi.

Mengapa TV Digital ?

TV Digital di sini bukan berarti pesawat TV-nya yang Digital, melainkan lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah signal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital (Digital Broadcasting). Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap noise dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode koreksi error (error correction code).

Akhir-akhir ini, performance TV digital untuk penerimaan pada mobile terminal (misal telepon genggam, mobil, bus, kereta listik dan lain-lain yang bergerak) bisa ditanggulangi dan ditingkatkan performansinya dengan menggunakan prinsip space diversity (beberapa peneliti Jepang menambahkan antenna diversity bersamaan dengan space diversity sehingga diperoleh diversity 2x lipat) untuk mengurangi efek Doppler karena pergerakan. Di laboratoritum penulis sendiri, antena dengan jumlah 4 ternyata mampu menaikkan performance (dengan mengurangi kesalahan bit) daribit-error-rate (BER) 1/10 (1E-1) menjadi 1/1000 (1E-3) untuk kecepatan pergerakan sebesar 100 km/jam. Ini adalah sebuah perbaikan yang cukup menakjubkan hanya dengan menaruh antena dan sedikit algoritma pengolahan sinyal.

 

Tugas2

Membuat efek foto vintage pada foto dengan adobe photoshop

February 28, 2015 in Uncategorized

 

Bisa Edit Photoshop – Efek foto vintage memang telah menjadi trend akhir-akhir ini, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang digital imaging, masyarakat dapat dengan mudah mengedit foto menggunakan aplikasi yang ada di smartphone mereka. Namun bagi kita yang menggeluti dunia editing, tentu tidak akan puas bila hanya mengedit foto melalui smartphone. Oleh sebab itu, disini saya akan memberikan trik membuat efek foto vintage dengan adobe photoshop. Mudah-mudahan dapat memberikan ilmu baru bagi anda yang ingin memberikan efek vintage atau retro kedalam koleksi foto anda. Simak langkah-langkahnya berikut ini:

  • Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka file atau lakukan drag and drop foto yang akan diedit kedalam photosop. Dalam tutorial ini sya menggunakan Adobe Photoshop CS 5.1
1
  • Setelah file terbuka, klik image > adjustment > curve lalu ubah pengaturan sehingga gambar tampak lebih terang.

2

  • Langkah selanjutnya adalah membuat layer baru dengan cara mengklik new layer pada pojok kanan bawah photoshop.
    3 
  • Setelah layer baru muncul, arahkan mouse menuju gradient tool, lalu klik kanan pada gradient tool maka akan muncul box baru, dan pilih paint bucket tool.
 4
  • Langkah selanjutnya yang harus anda lakukan adalah memilih warna untuk layer tersebut, arahkan mouse menuju set foreground colour lalu tentukan warna seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:

5

  • Kemudian klik pada foto sehingga foto akan tertutupi oleh warna tersebut.
6
  • Kemudian, geser opacity layer tersebut menjadi 30. Lalu klik kanan pada layer untuk mengatur blending option menjadi overlay kemudian klik ok untuk memunculkan gambar kembali.
7
  • Buat layer baru lagi, ulangi langkah-langkah 3-7 namun kali ini ubah warna menjadi putih.

 8

  • Kemudian atur opacity sesuai selera, pada tutorial ini sya mengubahnya menjadi 7. Lalu ubah blending option menjadi overlay. Maka hasil gambar akan kembali muncul. Pada gambar masih belum tampak efek vintage yang diinginkan. Untuk itu, anda harus membuat new layer lagi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya akan tetapi kali ini ubah warnanya menjadi biru. Setelah itu atur opacity sesuai selera pada tutorial ini sya buat menjadi 24. Kemudian atur blending option menjadi exclusion, seperti pada gambar berikut.9
  • Coba kita lihat perbedaannya  

Maudy

Itulah teknik mengedit efek foto vintage dengan adobe photoshop. Jika anda melakukan setiap  langkah-langkahnya dengan benar maka hasil foto akan tampak seperti diatas. Apabila anda merasa belum puas, anda dapat mengubah opacity dari masing-masing layer sampai menemukan efek vintage yang anda inginkan. Selamat bereksperimen.
Terimakasih :))

 

Selamat Menulis

February 28, 2015 in Uncategorized

Selamat Datang di Dunia Blog, dan selamat menulis…

Pengelola blog kembali mengingatkan akan peraturan pemakaian Blog Universitas Widyatama Bandung adalah sebagai berikut :

  1. Blog ini merupakan milik Universitas Widyatama termasuk didalamnya seluruh sub domain yang digunakan sehingga apa yang terdapat didalam blog ini secara umum akan mengikuti aturan dan kode etik yang ada di Universitas Widyatama Bandung.
  2. Blog ini dibuat dengan menggunakan aplikasi pihak ke tiga (WordPress), dan lisensi plugin plugin didalamnya terikat terhadap developer pembuat plugin tersebut.
  3. Blog ini dapat digunakan oleh Karyawan, Dosen dan Mahasiswa Universitas Widyatama Bandung.
  4. Dilarang melakukan registrasi username atau site/subdomain blog dengan menggunakan kata yang tidak pantas.
  5. Dilarang memasukkan konten dengan unsur SARA, pornografi, pelecehan terhadap seseorang ataupun sebuah institusi.
  6. Dilarang menggunakan blog ini untuk melakukan transaksi elektronik dan pemasangan iklan.
  7. Usahakan sebisa mungkin untuk melakukan embed video atau gambar di bandingkan dengan melakukan upload secara langsung pada server.
  8. Pelanggaran yang dilakukan akan dikenakan sanksi penutupan blog dan atau sanksi yang berlaku pada aturan Universitas Widyatama sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  9. Administrator berhak melakukan pembekuan account tanpa pemberitahuan terlebih dahulu jika dianggap ada hal hal yang melanggar peraturan.
  10. Aturan yang ada dapat berubah sewaktu waktu.

Beberapa Link terkait Universitas Widyatama

  1. Fakultas Ekonomi – http://ekonomi.widyatama.ac.id
  2. Fakultas Bisnis & Manajemen – http://manajemen.widyatama.ac.id
  3. Fakultas Teknik – http://teknik.widyatama.ac.id
  4. Fakultas Desain Komunikasi Visual – http://dkv.widyatama.ac.id
  5. Fakultas Bahasa – http://bahasa.widyatama.ac.id

Layanan Digital Universitas Widyatama

  1. Biro Akademik – http://akademik.widyatama.ac.id
  2. Rooster Kuliah – http://rooster.widyatama.ac.id
  3. Portal Mahasiswa – http://mhs.widyatama.ac.id
  4. Portal Dosen – http://dosen.widyatama.ac.id
  5. Digital Library – http://dlib.widyatama.ac.id
  6. eLearning Portal – http://learn.widyatama.ac.id
  7. Dspace Repository – http://repository.widyatama.ac.id
  8. Blog Civitas UTama – http://blog.widyatama.ac.id
  9. Email – http://email.widyatama.ac.id
  10. Penerimaan Mahasiswa Baru – http://pmb.widyatama.ac.id/online

Partner UTama

  1. Putra International College – http://www.iputra.edu.my
  2. Troy University – http://www.troy.edu
  3. Aix Marsielle Universite – http://www.univ-amu.fr
  4. IAU – http://www.iau-aiu.net/content/institutions#Indonesia
  5. TUV – http://www.certipedia.com/quality_marks/9105018530?locale=en
  6. Microsoft – https://mspartner.microsoft.com/en/id/Pages/index.aspx
  7. Cisco – http://www.cisco.com/web/ID/index.html
  8. SAP – http://www.sap.com/asia/index.epx
  9. SEAAIR – http://www.seaair.au.edu

Academic Research Publication

  1. Microsoft Academic  –  http://academic.research.microsoft.com/Organization/19057/universitas-widyatama?query=universitas%20widyatama
  2. Google Scholar – http://scholar.google.com/scholar?hl=en&q=Universitas+Widyatama&btnG=

Info Web Rangking

  1. Webometric – http://www.webometrics.info/en/detalles/widyatama.ac.id
  2. 4ICU – http://www.4icu.org/reviews/10219.html
Skip to toolbar